Selamat datang ke MRII Bern.

Kami senang atas kunjungan anda ke website kami. Kami berharap Saudara mendapatkan informasi yang diperlukan dan semoga artikel-artikel yang dimuat dapat menjadi berkat juga. Terlebih lagi, kami berharap bisa bersekutu bersama dengan Saudara di Kebaktian Minggu.


Ringaksan PA 18 Juli 2009

Katekismus Heidelberg Hari Keduabelas: Christ and Christians

Question 31. Why is he called "Christ", that is anointed?
Answer: Because he is ordained of God the Father, and anointed with the Holy Ghost, (a) to be our chief Prophet and Teacher, (b) who has fully revealed to us the secret counsel and will of God concerning our redemption; (c) and to be our only High Priest, (d) who by the one sacrifice of his body, has redeemed us, (e) and makes continual intercession with the Father for us; (f) and also to be our eternal King, who governs us by his word and Spirit, and who defends and preserves us in that salvation, he has purchased for us. (g)


The term “Christ” (Greek: Christos), not part of the name of the Lord, is the title of the Lord, meaning “anointed one” (“Messiah” in Hebrew).
in OT, 3 classes of people who could be called anointed ones:
(1) the prophets, Elisha was anointed by Elijah (1 Kings 19:16);
(2) the priests, Aaron and his sons were anointed by Moses (Ex 28:41)
(3) the kings, Samuel anointed David (1 Samuel 16:13).

Apa makna dari pengurapan? Pilihan dari Tuhan, kuasa / mandat Tuhan atas orang yang diurapi.
The Lord Jesus Christ was the long-expected Messiah who is anointed (not with oil but with the Holy Spirit) into the 3 offices.

(a) Lukas 4:18-19 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
Such is the distinction pointed out by Calvin and has since been adopted by the Protestant church.

1st office: Prophet = Teacher
(b) Kis 3:22 Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. (Peter’s sermon, applying passage from Deut. to Jesus)
What are the tasks of the prophet in OT?
In the Old Testament times a prophet proclaimed the Word of God and explained it to the people.
Christ : 1. through his own person is the revelation of God the Father to us, 2. revealed Word of God during his ministry and now 3. the Bible => fulfill our spiritual needs: we did not know and did not understand.

2nd office: Priest
(d) Maz.110:4 TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."
What are the tasks of the priest in OT?
- he offered a lamb or some other clean animal,
- he made intercessory prayer for the people.
The catechism calls Christ the only High Priest. Why is that?
1. Christ is Priest and sacrificial Lamb at the same time: he offers himself up as a sacrifice. After His offer on the cross no more animals had to be offered.
Why is there no chair to be found in the Jewish temple? signifying that the work of the priests was never done. Compare with (e) Ibr. 10:12-14 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.
2. Christ intercedes for us at the right hand of his Father in heaven. (f) Rom.8:33-34 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
The intercessory prayers of Christ are always heard: our prayers are heard because of Christ. (Christ guaranteed our right to be heard)
Can non believer (other religion, atheist) pray to God? God does not hear the prayers of non-Christians. What about prayers from little children?

Illustration: a heavenly law firm with us as clients, Jesus presiding over the heavenly branch and the Holy Spirit directing the earthly branch. Each of them pleads for us. The Spirit moves us to pray and to be bold in our prayer. Jesus interprets our prayers aright and based on His sacrifice allows our prayer to go to God the Father, who is our judge (the devil is our accuser).
Example of Jesus interceding for Peter.

3rd office: King
(g) Wahyu 19:16 Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."
What does a king do?
- he reigns, issues law, governs the country
- he protects the people against all enemies.
Jesus governs us by his word and spirit. We are not autonomous after our conversion (receive Christ as Savior and Lord). Christ is our Lord. He provides proper and loving ruling over us within the church => fulfills our need for spiritual discipline, guidance and rule.
Jesus defends and preserves us. God's children have three mortal enemies: satan, the world, and their own sinful heart. King Jesus protects His people against these enemies. He safeguards them until they are in their eternal home.
Kingship of Jesus: is it not now but in the future? Is it only in spiritual realm? Is it only to the church alone?
It has come, it is now, and it will be perfected. God’s rule in human history, in individual soul of human, in the church, and a future coming kingdom. Illustrations from the parables: Matt 13 farmer that sow seeds, conclusion: only part of the preaching effort will bear fruit => against the concept that with more preaching advancement, the whole world will be saved. wheat and tares, conclusion: there will always be children of the devil together with children of God in this world until the end of times.

Question 32. But why art thou called a Christian? (a)
Answer: Because I am a member of Christ by faith, (b) and thus am partaker of his anointing; (c) that so I may confess his name, (d) and present myself a living sacrifice of thankfulness to him: (e) and also that with a free and good conscience I may fight against sin and Satan in this life (f) and afterwards I reign with him eternally, over all creatures. (g)


(a) Kis 11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
This name was accepted as a name of honor, and it still is today. It serves to identify those who are followers of Christ or in the words of the catechism: we are members of Christ by faith and therefore are partakers of His anointing.
(b) 1 Kor.6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
A person is not a real Christian because he is baptized and a member of a Christian church. A person is a true Christian only when he is united to Christ by faith and is a partaker of His anointing. It implies that the Holy Spirit dwells in his heart and that he experiences the Spirit's guidance in his life.

3 offices of a Christian: prophet, priest, king

A Christian is a prophet. What are the implications?
(d) Rom.10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Being a prophet shows itself in the confessing of the name of Christ. This means to confess Him, to give testimony, to bear witness, to exhort others, and to point out the way. Every Christian must do this. One does not have to be a missionary, preacher, or elder to do so.

A Christian is a priest. What are the implications?
(e) Rom.12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
A Christian is a priest. This implies that his life is a sacrifice (take after the example from our High Priest). He does not live for himself, but for God and his neighbor.
He has a life of prayer, interceding for work of God and also for his fellow man.

A Christian is a king. What are the implications?
(f) Rom.6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
A Christian is a king => follow the example of our king Christ while He was on earth:
1. In the strength of Christ he strives against sin and devil and gains the victory.
2. we reign.
(g) 2 Tim.2:12 jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita;
Jesus was already a King when He was on earth, but how did He reign? How shall we reign? Not by lording it over one another, for that is not how Jesus exerts his reign among us. Our kingship is expressed, not in privilege, but in responsibility.
3. And one day we may sit with Christ in His throne and be forever king with Him over all creation.

(Surya Kusuma)

Ringkasan khotbah 5 Juli 2009

Lukas 15:11-32 Perumpamaan Anak yang Hilang

Dalam Lukas 15 terdapat 3 perumpamaan yang diceritakan oleh Tuhan Yesus sebagai jawaban atas sungut-sungutan orang Farisi yang melihat Tuhan Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Ketiga perumpamaan ini saling berkaitan. Saat ini kita akan melihat perumpamaan yang ketiga, yaitu tentang anak yang hilang, tetapi kita tidak boleh melupakan penekanan yang terdapat dalam kedua perumpamaan yang mendahului.

Pada perumpamaan anak yang hilang, terkesan seakan-akan anak yang hilang tersebut yang mengambil inisiatif untuk kembali kepada bapanya, setelah ia mengalami kelaparan dan kesusahan, maka ia pun insaf dan kemudian bangkit dan pergi kembali ke rumah bapanya (ayat 18-20). Sedangkan bapanya hanya menunggu dan melihat dari kejauhan, seolah-olah pasif. Dari sini ada orang mungkin mengambil kesimpulan bahwa pertobatan itu jadinya adalah inisiatif dari si pendosa yang menyadari keadaannya kemudian kembali kepada Bapanya yang dengan sabar menunggu.

Ini konklusi yang timpang kalau kita tidak melihat penekanan pada perumpamaan yang pertama dan kedua. Dalam perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang, kita melihat dengan jelas sekali si gembala dan si perempuan mencari dengan begitu giat, bahkan meninggalkan yang banyak lainnya dan mencari si satu yang hilang itu. Ini menyatakan Allah yang aktif mencari manusia yang berdosa yang tidak dapat mencari jalan pulang mereka sendiri.

Ada penafsir yang memperhatikan dan mengambil konklusi yang tepat, bahwa dalam perumpamaan domba yang hilang, yang hilangnya itu 1 dari 100 berarti 1 persen yang hilang. Kemudian dalam perumpamaan dirham yang hilang, yang hilangnya itu 1 dari 10 berati 10 persen yang hilang. Sedangkan dalam perumpamaan anak yang hilang, apakah yang hilang itu 1 dari 2 sehingga 50% yang hilang? Tidak, sesungguhnya adalah 100% yang hilang, karena sesungguhnya anak yang sulung itu juga hilang, walaupun ia terus tinggal di rumah bapanya, tetapi sebenarnya ia telah hilang status anaknya dan hanya memegang status seorang pelayan.

Dari perumpamaan ini kita dapat menghayati dua ekstrim keadaan manusia. Yang pertama direpresentasikan oleh anak yang bungsu. Ia begitu memegang status keanakannya, sehingga ia begitu berani meminta bagian warisan miliknya. Sebenarnya mendapatkan bagian warisan miliknya tidaklah salah sama sekali, karena itu memang sudah dipersiapkan untuk dia. Dia bukannya meminta warisan untuk kakaknya. Tetapi yang menjadi permasalahan di sini ialah, ia meminta tidak dengan motivasi yang benar, yaitu ia ingin menghambur-hamburkannya, dan juga tidak pada waktu yang benar, karena ayahnya masih ada. Anak ini begitu mementingkan status ‘sonship’ nya dia, dan yang sebenarnya diincar adalah harta yang menjadi bagian dia, yang menjadi paket dari ‘sonship’nya. Ia tidak menikmati hubungan yang indah dengan ayahnya tetapi ia malahan mencari dan mementingkan materi dan warisan yang menjadi bagian dari paket sebagai anak.

Ketika ia habis menghamburkan bagian warisannya, sampai dia harus kerja di kandang babi dan menderita kelaparan, baru dalam keadaan demikian, Tuhan membukakan hatinya untuk sadar dan bertobat. Sering Tuhan mengijinkan kita masuk dalam keadaan yang sulit dan tidak enak. Bahkan kalau kita renungkan, sering Tuhan bertindak seperti bapa dari anak ini. Bapa ini tahu kalau dia berikan bagian warisan bagi anak bungsunya, ia akan hidup bebas dan menghabis-habiskan uangnya dan masuk dalam penderitaan. Terkadang Tuhan juga membiarkan hal demikian terjadi kepada kita. Karena itu, jangan selalu anggap kalau kita meminta sesuatu kepada Tuhan, kemudian ketika kita mendapatkannya, maka itu berarti Tuhan memberikan sesuai dengan kehendakNya. Belum tentu! Bisa saja Tuhan membiarkan kita mendapatkan apa yang kita maui sesuai kehendak kita, bukan kehendak Tuhan, tetapi itu sebagai suatu hukuman yang harus kita sendiri yang tanggung. Karena itu baiklah kita meminta sesuatu kepada Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tapi kita juga melihat dalam kasus anak bungsu ini, akhirnya Tuhan dapat juga memakai penderitaan yang ia alami untuk menginsafkan dia. Ini semua hanya berkat pemeliharaan Tuhan semata-mata. Ketika kita membaca proses pertobatannya, ini sangatlah menggugah hati. Dari ayat 18-24, kita melihat pertama-tama ada perubahan dalam hati anak itu. Dia sadar bahwa ia telah berdosa. Dia baru sadar betapa menyedihkannya hidup sebagai hamba, bahkan hamba di rumah bapanya mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari yang ia alami sekarang. Dia juga sadar bahwa ia tidak layak lagi bertemu ayahnya. Ia lebih layak disebut pelayan daripada disebut anak. Di sinilah paradoks yang dapat kita petik. Ketika dulu ia terus menganggap diri sebagai anak dan melihat segala benefit yang terkait dengan status tersebut, maka sesungguhnya ia telah kehilangan relasi antara anak dengan ayahnya. Tetapi sekarang, ketika ia sadar bahwa ia tidak layak menjadi anak, bahkan lebih layak dipanggil pelayan, maka bapanya pun memulihkan posisinya sebagai anak. Bapanya merangkul dan mencium dia, memberikan segala yang terbaik kepada dia, bahkan mengadakan suatu pesta sukacita yang begitu besar untuk dia, karena sesungguhnya, ketika anak itu menganggap diri tidak layak, maka ia dilayakkan oleh bapanya. Betapa indahnya paradoks ini.

Demikian juga dengan kita, ketika kita terus menerus menyatakan diri sebagai anak Raja, dan melihat segala berkat-berkat yang terkait dengan status sebagai anak Raja, tetapi tidak mencari wajah Bapa kita di surga, maka kita sesungguhnya telah hilang. Ketika kita menyadari kebobrokan kita, ketidaklayakan kita, bahwa kita lebih layak disebut pelayan, maka Tuhan sendiri yang akan mengangkat kita menjadi anak Raja yang hidup.

Tadi kita katakan bahwa yang hilang bukan saja anak bungsu tetapi juga anak sulung. Hal ini benar adanya. Kita melihat di ayat 12 bahwa sesungguhnya bapa itu telah membagi-bagikan hartanya bukan hanya kepada anak yang bungsu, tetapi juga kepada anak yang sulung. Jadi sebenarnya anak sulung itu juga telah mendapatkan bagiannya pada saat yang bersamaan ketika anak bungsu itu mendapatkan bagiannya. Di sisi yang satu, anak bungsu langsung menghamburkan warisannya, di sisi yang lain, anak sulung tidak berbuat apa-apa sama sekali mengenai warisannya, dan ia bahkan masih menganggap diri sebagai pelayan bapanya (ayat 29). Sungguh sedih sekali, ia selama ini tinggal di bawah satu atap yang sama dengan ayahnya tetapi ia memperlakukan diri sebagai pelayan dan tidak sebagai anak. Sampai bapanya berkata di ayat 31: ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.’ Ini adalah contoh orang yang mengaku Kristen dan hidup dalam kekuatan sendiri tetapi tidak ada sukacita dalam suatu relasi anak Allah dengan Bapanya. Ia begitu formal, ia menjalankan segala peraturan dan perintah dengan penuh ketaatan. Ia begitu sempurna, saking sempurnanya sehingga tidak ada ruang dalam hatinya untuk berbelas kasihan ataupun bersimpati kepada orang yang gagal, orang yang melanggar hukum kemudian bertobat. Ini adalah kondisi ekstrim lainnya, yang sayangnya banyak dijumpai di dalam gereja juga.

Kiranya ini boleh menjadi peringatan dan renungan bagi kita semua. Allah telah berinisiatif datang mencari kita, ketika kita masih berdosa dan tidak mampu keluar dari keberdosaan kita. Kemudian ia memberikan kepada kita status anak, tetapi bukan hanya status, melainkan suatu hubungan yang hidup. Allah adalah Bapa kita, dan kita anak-anakNya, kita yang sebenarnya tidak layak. Kiranya kita menikmati hubungan kita dengan Allah Bapa kita, dan tidak fokus pada berkat-berkatNya. Kiranya kita juga boleh mempunyai hati yang mengasihi dan mengasihani orang berdosa lainnya.

(Pdt. Billy Kristanto)
Ringkasan khotbah belum dikoreksi Pengkhotbah.

Ringkasan PA 4 Juli 2009

Hari Kesebelas (katekismus Heidelberg)

Q. 29. Mengapa Anak Allah yang bernama Yesus disebut sebagai Juruselamat?
A. Karena ia menyelamatkan kita, dan melepaskan kita dari dosa-dosa kita; (a) dan karenanya, kita tidak seharusnya mencari maupun bisa mendapatkan keselamatan dari yang lain. (b)
(a) Mat.1:21; Ibr.7:24,25. (b) Kis 4:12; Yoh 15:4,5; 1 Tim.2:5; Yes.43:11; 1 Yoh 5:11.

Q. 30. Apakah orang-orang yang mengaku diri percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat, masih mencari keselamatan maupun kesejahteraan mereka dalam orang-orang suci, atau dalam diri mereka sendiri, atau dari lainnya?
A. Tidak, karena mereka hanya mengakui dia dengan kata-kata, tetapi dalam kelakuan mereka menyangkal Yesus sebagai satu-satunya penolong dan Juru Selamat; (a) karena kalau demikian, salah satu dari dua hal ini haruslah benar, yaitu bahwa Yesus bukanlah Juruselamat yang sejati; atau mereka yang menerima sang Juruselamat dengan iman sejati pasti akan mendapatkan bahwa Ia memenuhi segala syarat yang diperlukan untuk keselamatan mereka. (b)
(a) 1 Kor.1:13,30,31; Gal.5:4. (b) Ibr.12:2; Yes.9:6; Col.1:19,20; Kol.2:10; 1 Yoh 1:7,16.

Yesus adalah nama yang sangat penting, namun itu bukan nama pribadi kedua dari Allah Tritunggal dari kekekalan. Itu adalah nama yang Tuhan pakai untuk mengkomunikasikan relasiNya dengan manusia. Yesus artinya yang menyelamatkan. Tuhanlah yang menyelamatkan manusia.

Dalam repentance atau pertobatan, ada dua perspektif yang bisa dipegang, yaitu perspektif sekali untuk selama-lamanya dan perspektif perpetual atau terus menerus. Keduanya benar, karena kita diselamatkan sekali untuk selama-lamanya dan dalam pernyataan ini, status keselamatan yang ditekankan. Tetapi secara kondisi, kita mengalami pengalaman salib sebagai suatu proses yang terus menerus kita lalui selama kita hidup.

Dalam karya keselamatan, kita percaya bahwa itu dikerjakan sepenuhnya oleh Kristus dan tidak ada yang bisa atau perlu ditambahkan ke karya yang telah dikerjakan Kristus dengan sempurna. Dalam agama lain, sebenarnya banyak hidden costs atau tambahan-tambahan yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, tetapi tidak demikian di dalam keKristenan. Kalau begitu kita bertanya, dimanakah letaknya perbuatan baik dalam keKristenan? Seperti pernah dibahas, yaitu sebagai ucapan syukur atau thanksgiving.

Kita harus sadar betapa jauh kita telah jatuh dari keadaan mula-mula kita, baru kita sadar bahwa kita tidak mampu kontribusi apapun dalam keselamatan yang kita terima. Kalau kita tahu bahwa kejatuhan kita begitu dalam, dan setelah itu kita masih merasa mau kontribusi dalam keselamatan kita, maka itu sangatlah menghina karya Kristus. Ini dapat diumpamakan secara kasarnya seperti kita ditraktir makan di restoran yang mahal sekali, misalnya 500 chf per orang sekali makan, dan kita pikir kita mau kontribusi dengan membayar 25 cents. Bukankah ini menyatakan kita tidak tahu berterima kasih, dan bukannya menyatakan terima kasih kita? Ini menyatakan suatu penghinaan terhadap orang yang telah mentraktir kita.

Kekristenan adalah agama anugerah, yang totally anugerah, bahkan response dari manusia sendiri juga adalah anugerah. Pengertian ini erat kaitannya dengan konsep providence (pemeliharaan) Allah. Konsep providentia dalam kehidupan Calvin sangatlah kuat. Dia sendiri adalah exile dari Prancis, dan setelah dia menetap di Geneva selama 20 tahun baru dia mendapatkan surat pengakuan kewarganegaraan. Dalam statusnya yang sebagai exile, ia lebih dapat menghayati dan menggumuli akan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya. Terkadang dalam kehidupan kita, kita merasa ada bagian dari kita atau talenta kita yang kita rasa layak dipakai oleh Tuhan, tetapi ternyata Tuhan tidak pakai hal itu. Malah ada bagian yang kita rasa tidak layak dipakai yang ternyata Tuhan pakai. Ini semua berada dalam kedaulatan Tuhan yang bermaksud menunjukkan / mendemonstrasikan anugerahnya.

Kiranya kita bisa diingatkan akan karya Kristus di salib dan menerimanya dengan rendah hati sebagai pembayaran penuh untuk penebusan dosa kita.

(Pdt. Billy Kristanto)

ringkasan belum dikoreksi oleh pengkhotbah